In memoriam
Posted: April 18, 2011 in Indonesia, Opini, TokohTags: 4 bapak pendiri bangsa, bisa!, cita-cita, different, Hatta, hidup, Indonesia, Jas Merah, pahlawan, pemimpin, Soekarno
Ibarat mencintai, mereka mencintai bangsanya dengan tulus dan apa adanya. Tidak ada istilah “sesuai syarat dan ketentuan berlaku”. Rasa cintai itu mereka buktikan, tidak hanya jadi pemanis mulut yang akan menguap ketika bibir mengering. Mereka bersahabat dengan buku dan berteman dekat dengan penjara dan pengasingan. Karena menurut mereka penjara dan pengasingan alih-alih melemahkan justru akan menguatkan mereka. Mereka paham betul bagaimana rasanya disebut sebagai inlander. Oleh karenanya kemerdekaan menjadi harga mati buat mereka. Merdeka yang mereka definisikan bukan sekedar mengusir penjajah dari bumi pertiwi karena seperti terbukti kemudian bahwa kolonialisme mampu bermetamorfosis dalam berbagai bentuk.
Mereka adalah pemberontak hidup. Mereka yang memilih jalan hidup yang tidak lazim dalam urusan kemaslahatan pribadi. Mereka menempuh jalan yang berlawanan arah dengan orang kebanyakan. Mungkin mereka satu paham dengan Gandhi, “be the change you want to see in“. They are round pegs in the square holes. Buat mereka penderitaan mereka tidak seberapa jika dibandingkan keinginan mereka untuk mewujudkan bangsa yang adil dan makmur. Juga merdeka. 100%.
Berpolitik buat mereka adalah ajang untuk menuangkan gagasan. Aktualisasi pemikiran. Dan sudah barang tentu politik akan ditempatkan di panggung yang berbeda dengan kehidupan pribadi. Perselisihan dan kontestasi politik di antara mereka tidak menjadikan jabatan sebagai objeknya melainkan keyakinan akan mana yang benar. Mereka yang tumbuh dalam politik etis, agaknya sadar bahwa berpolitik pun membutuhkan etika. Tidak mengejutkan bila pada akhirnya karir politik yang mereka bangun tidak berbanding lurus dengan kemaslahatannya. Beruntung mereka didampingi oleh wanita-wanita yang tangguh. Yang mana menerima kenyataan hidup sebagai pendamping seorang politisi yang karirnya sarat akan pasang surut. Yang tetap setia mendamping mereka sejak masih menjadi politisi hingga (mungkin) menjadi pesakitan politik. Lagi-lagi terbukti bahwa mereka menempatkan politik dan kehidupan pribadi berada pada panggung yang berbeda.
Mungkin menjadi kesalahan mereka, yang memilih hitam atau putih pada dunia politik yang abu-abu. Mungkin mereka ingin memberikan teladan bagaimana berpolitik dengan etika. Mungkin tujuan mereka terhadap bangsa yang dicintainya sama tetapi jalan hidup yang mereka tempuh bisa saja berbeda. Mungkin saja saat ini mereka sedang tersenyum bangga membayangkan bangsa yang mereka perjuangkan telah menjadi bangsa yang adil dan makmur. Mungkin pula mereka justru mengelus dada akan bangsanya yang tidak belajar dari mereka. Mungkin, tidak semua dari mereka diberi gelar pahlawan akan tetapi semua dari mereka adalah teladan.
Bukanlah Soekarno atau pun Hatta. Bukan Syahrir, bukan pula Tan Malaka. Bukan Radjiman, bukan Soedirman. Bukan Syafruddin, pun Amir Syarifuddin. Bukan Soetomo juga Tjokroaminoto. Bukanlah Dasaad, bukan pula Asaat. Bukan mereka yang bersemayam di Kalibata atau pun Tanah Kusir. Bukan. Bukan hanya mereka yang menginginkan bangsa ini menjadi bangsa yang besar, menjadi bangsa yang adil dan makmur. Namun mereka tidak hanya menginginkan tetapi mengusahakan. Tidak cuma mencita-citakan tetapi berusaha mewujudkan. Mati-matian.
Mungkin bukan lagi saatnya berbicara soal romantisme sejarah yang berlebihan. Nama mereka dikumandangkan sedang jasa dan warisannya terlupakan. Bangsa yang besar, bangsa yang adil dan makmur tidak dibangun dalam satu malam. Akan tetapi bangsa yang sedemikian bisa saja terwujud puluhan atau ratusan tahun lagi karena sesuatu yang kita lakukan hari ini. Seperti mereka memahami bahwa mewujudkan bangsa yang adil dan makmur bukanlah sebuah mimpi melainkan janji.
Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan (Federich von Schiller)
Ketika kita senantiasa diyakinkan bahwa cita-cita dan mimpi itu ada, tidak lain untuk diwujudkan dalam bentuk yang lebih nyata.
Saya hanya seorang nasabah pada sebuah bank dengan suku bunga tertinggi Tanpa potongan, tanpa sistem bagi hasil Selama kesepakatan tidak benar-benar dilanggar
Saya hanya seorang serdadu pada sebuah pertarungan maha dahsyat Di mana lawan dan juga kawan teramat sulit dibedakan
Saya pun hanya seorang manusia purba untuk manusia sekian abad selanjutnya Yang tidak mampu bertahan di dunia Bahkan tak sanggup melawan usia
Dan pada akhirnya Percobaan juga eksperimen akan menghasilkan Tabungan dan deposito pun jatuh tempo perang berhenti dan bendera putih dikibarkan
Dan manusia purba, hanya akan menjadi sekumpulan tulang belulang Dari seorang petualang

Anak-anak Neira menyebutnya “Om Kacamata”, sebutan yang menggambarkan keseriusan, keheningan, dan keluasan pengetahuannya. Pers Jepang menjulukinya “Gandhi of Java” karena ketulusannya menempuh perjuangan, perlawanannya yang tanpa jeda, dan sikapnya yang anti kekerasan. Rakyat banyak menyebutnya “Kekasih Indonesia” karena sumpah setianya untuk tidak menikah hingga Indonesia Merdeka. Iwan Fals menyebutnya “Sahabat” karena ia menjadi sahabat siapa saja tanpa pernah mempedulikan sekat-sekat geografis, budaya ataupun agama. Mavis Rose menyebutnya “Muslim Sejati” karena beristri empat: Indonesia, Rakyat Indonesia, Buku dan Rahmi Rachim.
(Hatta, Hikayat Cinta dan Kemerdekaan)
Dan kita adalah dua planet yang berbeda dalam sebuah galaksi Bima Sakti. Kita berbeda dalam dimensi dan morfologi. Juga kontur dan topologi. Ruang hampa di antara kita terkadang tidak mampu menyampaikan pesan dalam bentuk suara. Karena memang terkadang suara, intonasi dan nada bicara bisa dikalahkan hanya oleh raut muka, juga tatapan mata. Orbital kita yang berbeda dalam berevolusi adalah asal muasal dari istilah pertemuan dan perpisahan. Terkadang kita tidak bisa bersamaan dalam menikmati siang dan malam. Pun melihat kerlip bintang yang sama di kejauhan. Namun selama kita masih mengitari matahari yang sama, perbedaan jalan dan jarak yang ditempuh terkadang hanya masalah relativitas saja.
Oleh karena salah satu dari kita bukan satelit untuk yang lainnya sebagaimana yang terjadi pada bumi dan bulan, maka pertemuan di antara kita akan menjadi perkara yang sangat dinanti kehadirannya. Ketika kesabaran tidak lagi dihitung dalam detik, menit, jam dan hari. Ketika menunggu sudah menjadi bagian dari teka-teki. Ketika semua telah teruji dalam ratusan tahun cahaya.
Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya.
Tetapi marilah kita semuanya bertuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebudayaan, yakni tiada “egoisme agama”. Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan!
Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.
Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945
Benarkah bahwa memeluk agama adalah hak asasi yang paling asasi? Karena terkadang orang sudah beragama bahkan sebelum dia dilahirkan







